Selasa, 05 Juli 2022

PERAN PENTING KOHESIVITAS DALAM KELOMPOK

 

PERAN PENTING KOHESIVITAS DALAM KELOMPOK

 

Rico Millenando Wahyu Setiawan


 

ABSTRACT

Cohesiveness has an important role for groups and organizations. Cohesive members or employees can increase productivity, commitment, become a unifying group and improve employee performance. A cohesive environment will provide positive pressure from members and satisfy group member expectations.

 

Keywords: group cohesiveness

ABSTRAK

Kohesivitas memiliki peran yang penting bagi kelompok maupun organisasi. anggota atau karyawan yang kohesiv dapat meningkatkan produktifitas, komitmen, menjadi pemersatu kelompok dan meningkatkan kinerja karyawan. Dengan lingkungan yang kohesiv akan memberikan tekanan yang positif dari anggota dan memuaskan ekspektasi anggota kelompok.

 

Kata kunci: kohesivitas kelompok

 

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia dalam sistem organisasi sangatlah penting keberadaannya. Sumber daya manusia dapat dikatakan sebagai pelaku utama dalam menggerakkan sebuah organisasi. sumber daya manusia disini dapat berupa karyawan, dimana karyawan memiliki peran yang penting. Bahkan karyawan dapat dikatakan sebagai jasa itu sendiri  dan berpengaruh positif bagi perusahaan karena memiliki interaksi dengan konsumen (Shostack, 1977 dalam Djati & Ferrinadewi, 2004).

Lingkungan kerja yang kondusif dapat membuat karyawan menjadi nyaman apabila karyawan diberikan fasilitas yang baik, bersih, tidak bising dan tentunya modern. Lingkungan kerja yang kondusif pula dapat memberikan kesempatan kepada karyawan mengenai hasil yang diharapkan. Lingkungan kerja yang kondusif dapat pula membentuk kohesivitas pada karyawan sehingga dapat memberikan tekanan yang positif dari anggota dan memuaskan ekspektasi anggota kelompok (Carron & Hausenblas, 1998 dalam Høigaard et al., 2006).

Lingkungan kerja sendiri dapat dikatakan sebagai lingkungan kerja yang keseluruhan alat-alat, lingkungan tempat kerja, metode kerja dan juga pengaturan individu atau kelompok (Sedarmayanti, 2009). Sedangkan menurut Saydam (2000) dalam Rahmawanti et al., (2014) lingkungan kerja dapat dikatakan sebagai keseluruhan sarana prasarana yang berada disekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan dan dapat memepengaruhi pekerjaan itu sendiri.

Kohesivitas sendiri memiliki berbagai banyak keutamaan, yaitu dapat menyatukan setiap anggota menjadi satu kelompok, dan dapat menjadi alat pemersatu dalam mencapai tujuan (Putri & Parlindungan, 2021). Hal ini sejalan dengan pendapat Robbins (2002) bahwa kelompok yang kohesiv, maka anggota kelompok akan semakin dekat dengan tujuan kelompok. Serta kohesivitas sendiri dalam penelitian yang dilakukan oleh (Satriya & Hadi, 2018) dimana kohesivitas sendiri memiliki pengaruh yang sigfinikan pada kualitas komunikasi anggota kelompok.

Menurut Muslihah (2016) kohesivitas kelompok dapat juga mempengaruhi dari produktivitas dalam hal ini adalah kinerja karyawan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Hermawan & Rustiana (2019) dalam penelitiannya bahwa kohesivitas dapat cukup untuk meningkatkan produktivitas kelompok itu sendiri. Sejalan dalam bukunya (Forsyh, 2010) bahwa kohesivitas mempengaruhi produktivitas kelompok, namun dalam bukunya menambah beberapa hal yang dapat dipengaruhi kohesivitas yaitu dinamika kelompok serta kepuasan dan penyesuain anggota. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Anggraeni & Alfian, 2015) sendiri tidak menemukan adanya hubungan kohesivitas dengan social loafing, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa benar kohesivitas akan meningkatkan produktivitas kelompok bukan sebaliknya.

Kohesivitas pula dapat meningkatkan komitmen anggota dalam organisasi, hal ini diungkap oleh Mossholder, Bedein dan Armenakis bahwa terdapat hubungan antara tingkat kohesivitas dengan komitmen organisasi. Dimana dalam penelitiannya disebutkan tingkat kohesivitas kelompok berpengaruh positif terhadap komitmen karyawan dalam organisasi yang digambarkan dengan menurunnya tekanan kerja serta kecenderungan meninggalkan pekerjaan dan meningkatnya prestasi bekerja (Gibson et al., 2003). Hal serupa juga diungkapkan oleh (Shin & Park, 2007) bahwa kohesivitas memiliki pengaruh lebih baik terhadap partisipasi akan tugas dan kehadiran sosial.

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa kohesivitas sendiri memberikan dampak yang luar biasa kepada keberhasilan suatu kelompok dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat kohesivitas beserta cara meningkatkan kohesivitas pada kelompok atau organisasi.

 

DISKUSI

Kohesivitas sendiri dapat diartikan sebagai derajat individu untuk tetap bersama dan menjaga kebersamaan dalam mengejar tujuan dasar kelompok dan untuk memenuhi kebutuhan efektif anggota kelompok (Carron, 1982 dalam Anggraeni & Alfian, 2015). Menurut Robbins & Judge (2012) kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota kelompok mendukung dan memvalidasinya di tempat kerja.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Collin dan Raven, 1964 dalam (M. Putri & Mirza, 2018) bahwa kohesivitas adalah kekuatan yang memotivasi anggota kelompok untuk tetap berada dalam kelompok dan mencegah mereka meninggalkan kelompok. Dengan kata lain, kelompok kehesiv adalah kelompok yang bersatu. Kurangnya kemampuan karyawan untuk keluar dari kelompok menunjukkan bahwa hubungan yang harmonis antar anggota kelompok dapat dibangun, yang dapat meningkatkan persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja dan meningkatkan kualitas hidup mereka di tempat kerja (Kang & Deepak, 2013).

Menurut Forsyh (2010) dalam bukunya menyebutkan bahwa terdapat komponen dalam kohesivitas yaitu social cohesion dimana ketertarikan anggota terhadap anggota lain dalam satu kelompok dan ketertarikan terhadap kelompok secara keseluruhan, kemudian ada perceived cohesion dimana penafsiran dan rasa saling memiliki atas kelompok, dan anggota merasakan adanya kesatuan terhadap kelompok, yang ketiga dalam komponen kohesivitas adalah task cohesion dimana kapasitas untuk menyelesaikan tugas sukses sebagai unit terkoordinasi dan sebagai bagian dari kelompok, dan yang terakhir dari komponen kohesivitas dari bukunya Forsyth adalah emotional cohesion yaitu intensitas emosional kelompok dan individu ketika berada di dalam kelompok.

Menurut Festinger, Schacter dan Back dalam (Meinarno & Sarwono, 2018) bahwa kohesivitas itu sendiri dapat dipengaruhi oleh kemenarikan dan anggotanya, interakasi sosial serta sejauh mana dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan individu.

Menurut (McShane & Glinow, 2008) kohesivitas dipengaruhi oleh kesamaan, dimana kelompok kerja yang homogeny lebih kohesiv daripada kelompok kerja heterogen, kemudian ukuran kelompok dimana kelompok yang kecil lebih bersatu daripada kelompok besar, selanjutnya ada interakasi kelompok yang ketika sebuah kelompok mengulangi interakasi di antara para anggotanya, maka kelompok lebih kohesiv. Kemudian ketika ada masalah, tantangan dan keberhasilan kelompok akan menjadikan kelompok lebih kohesiv. Sejalan dengan hal tersebut menurut (Forsyh, 2010) mengungkakan ada interpersonal attraction dimana individu akan mencari anggota kelompok dan membentuk hubungan kohesiv dengan seorang yang atraktif, kemudian ada ukuran kelompok, selanjutnya ada initiations dimana orang yang bergabung melakukannya dengan lebih sengaja dan kemungkinan besar akan menjadi anggota yang aktif dan berkontribusi. Kemudian ada stability of membership dan structural features yang dimana hal tersebut dapat mempengaruhi kohesivitas dalam kelompok.

Menurut (Wijayanto, 2012) kohesivitas dapat ditingkatkan dengan cara pemimpin dapat menjelaskan adanya persaingan yang kuat dengan pesaing (di dalam dan di luar organisasi), kemuduan meningkatkan daya tarik interpersonal, selanjutnya meningkatkan keterlibatan, dan yang terakhir adalah menciptakan tujuan bersama dan takdir bersama yang dimana dapat mempengaruhi kinerja tim.

 

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan dari review artikel yang dilakukan oleh penulis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kohesivitas sangatlah penting bagi kelangsungan kelompok atau organisasi dalam mencapai tujuannya. Semakin tinggi tingkat kohesivitas dalam kelompok maka semakin tinggi pula tujuan kelompok atau organisasi dicapai. Sebaliknya, semakin rendah kohesivitas kelompok, maka semakin rendah pula tujuan kelompok untuk di gapai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, F., & Alfian, I. N. (2015). Hubungan Kohesivitas dan Social Loafing dalam Pengerjaan Tugas Berkelompok pada Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga. Jurnal Psikologi Kepribadian Dan Sosial, 04(02), 81–87.

Djati, S. P., & Ferrinadewi, E. (2004). Pentingnya Karyawan dalam Pembentukan Kepercayaan Konsumen Terhadap Perusahaan Jasa: (Suatu kajian dan Proposisi). Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, 6(2), 114–122.

Forsyh, D. R. (2010). Group Dynamics (Fifth). Belmont, CA: Wadsworth, Cengage Learning.

Gibson, J. S., Ivancevich, J. M., Donnelly, jr, J. H., & Konopaske, R. (2003). Organizations: Behavior Structure Processes. New York: McGraw-Hill Irwin.

Hermawan, Y., & Rustiana, E. (2019). Peningkatan Produktivitas Melalui Kohesivitas Kelompok dan Revitalisasi Kondisi. Jurnal Ilmu Administrasi (JIA), XVI(1), 51–65.

Høigaard, R., Säfvenbom, R., & Tønnessen, F. (2006). The Relationship Between Group Cohesion, Group Norms, and Perceived Social Loafing in Soccer Teams. Small Group Research, 37(3), 217–232. https://doi.org/10.1177/1046496406287311

Kang, L. S., & Deepak. (2013). Determinants of Quality of Work Life A Case of Veterinary Doctors in Punjab. Managemen And Labour Studies, 38(1–2), 25–38. https://doi.org/10.1177/0258042X13491479

McShane, S. L., & Glinow, M. A. V. (2008). Organizational Behavior (Fifth). Chicago: McGraw Hill.

Meinarno, A. E., & Sarwono, W. S. (2018). Psikologi Sosial (2nd ed.). Jakrata: Salemba Humanika.

Muslihah, E. (2016). Pengelolaan Kohesivitas dan Keberhasilan Team Work. Jurnal Ilmu Komunikasi, 58–68.

Putri, D. N., & Parlindungan, D. R. (2021). Peran Kohesivitas Kelompok Dalam Membangun Prestasi Tim Basket Putri Sma 1 PSKD Jakarta. Kalbisocio, Jurnal Bisnis Dan Komunikasi, 8(2), 40–55.

Putri, M., & Mirza. (2018). Kohesivitas Kelompok dan Kualitas Kehidupan Kerja Pada Karyawan. Seurune, Jurnal Psikologi Unsyiah, 1(1), 1–17.

Rahmawanti, N. P., Swasto, B., & Prasetya, A. (2014). Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada Karyawan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Utara). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 8(2), 1–0.

Robbins. (2002). Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2012). Organizational Behavior (15th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Satriya, M. G. R., & Hadi, C. (2018). Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Intensi Turnover dengan Individual Corporate Entrepreneurship Sebagai Variabel Mediator pada Karyawan PT SMB. Jurnal Psikologi Industri Dan Organisasi, 7, 1–22.

Sedarmayanti. (2009). Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: CV. Mandar Maju.

Shin, S.-Y., & Park, W.-W. (2007). Moderating effects of group cohesiveness in competency-performance relationship: A multi-level study. Journal of Behavioral Studies in Business, 1–15.

Wijayanto, D. (2012). Pengantar Manajemen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.